KEBIASAAN MAKANAN DAN CARA MEMAKAN PADA LARVA IKAN NILEM (Osteochilus hasselti C.V)

KEBIASAAN MAKANAN DAN CARA MEMAKAN PADA LARVA IKAN NILEM (Osteochilus hasselti C.V)

 

PENDAHULUAN

Jumlah populasi ikan dalam suatu perairan biasanya ditentukan oleh pakan yang ada. Beberapa faktor yang berhubungan dengan populasi tersebut,yaitu jumlah dan kualitas pakan yang tersedia dan mudah didapatnya pakan tersebut (Effendi 1997). Benih ikan yang baru mencari makan, pakan utamanya  adalah plankton nabati (fitoplankton) namun sejalan dengan bertambah besarnya ikan berubah pula makanannya (Mudjiman 1989). Ikan yang mampu menyesuaikan diri ditinjau dari segi makanan adalah jenis ikan yang mampu memanfaatkan makanan yang tersedia dan bersifat generalis dalam memanfaatkan makanan alami, sehingga ikan tersebut mampu menyesuaikan diri terhadap fluktuasi kesediaan makanan alami (Tjahjo, 1998).

Pengelompokan ikan berdasarkan kepada bermacam-macam makanan yang  dimakan, ikan dapat dibagi menjadi euryphagic yaitu ikan pemakan bermacam-macam makanan, stenophagic yaitu ikan pemakan makanan yang macamnya sedikit dan monophagic yaitu ikan yang makanannya terdiri dari atas satu macam makanan saja (Effendie, 1997).

Studi tabiat kebiasaan makanan ikan ialah menentukan gizi alamiah ikan itu, sehingga dapat dilihat hubungan di antara organisme di perairan tersebut, misalnya bentuk-bentuk pemangsaan, saingan dan rantai makanan. Sehingga makanan dapat merupakan faktor yang menentukan bagi populasi, pertumbuhan dan kondisi ikan, sedangkan macam makanan satu jenis ikan biasanya bergantung kepada umur, tempat dan waktu. Kebiasaan makanan dapat berbeda dengan waktu lainnya walaupun pengambilan dilakukan pada tempat yang sama. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan suasana lingkungannya.

 

IKAN NILEM

Ikan nilem (Osteochilus hasselti) merupakan ikan herbivore, yaitu memakan makanan yang berupa makanan nabati, antara lain yaitu alga filamen dan plankton lainnya. Kebiasaan makanan  ikan  (food  habits)  adalah  kuantitas  dan kualitas makanan yang dimakan oleh ikan, sedangkan kebiasaan cara memakan (feeding habits) adalah waktu, tempat dan caranya makanan itu didapatkan oleh ikan. Kebiasaan makanan dan cara memakan ikan secara alami bergantung pada lingkungan tempat ikan itu hidup. Tujuan mempelajari kebiasaan makanan (food habits) ikan dimaksudkan untuk mengetahui pakan yang dimakan oleh setiap jenis ikan.

Ikan nilem merupakan ikan air tawar yang banyak terdapat diperairan umum terutama diperairan mengalir atau agak tergenang serta kaya akan oksigen terlarut. Ikan nilem mempunyai bentuk tubuh pipih, mulut dapat disembulkan, posisi mulut terletak diujung (terminal), sedangkan posisi sirip terletak di belakang sirip dada (abdominan).

Ikan nilem tergolong ikan bersisik lingkaran (silkoid), rahang atas sama pajang atau lebih pajang dari diameter mata. Permulaan sirip punggung berhadapan dengan sisik garis ke-8 sampai garis rusuk ke-10, bentuk sirip dubur agak tegak. Sisirp perut tidak mencapai dubur (Saanin, 1980). Saanin (1984) menyatakan bahwa cirri-ciri ikan nilem adalah badan memajang, pipih kesamping kompres. Panjang baku 2,5 sampai 3 kali tinggi badan. Mulut dapat disambulkan dengan bibir berkerut. Sungut ada dua pasang, permukaan sirip punggung terletak dibelakang permulaan sirip dada. Sisik pada Linea Lteralis (LL) 33-36 buah. Sirip ekor bercagak kedalam.

 

KEBIASAAN MAKAN

Kebiasaan makanan ikan nilem (Osteochilus hasselti) merupakan ikan pemakan fitoplankton dan detritus. Makanan alami lainnya biasanya berupa plankton, baik fitoplankton atau zooplankton, kelompok cacing, tumbuhan air, organisme bentos dan ikan maupun organisme lain yang berukuran lebih kecil daripada organisme yang dipelihara. Pencernaan makanan pada ikan adalah suatu proses tentang pakan yang dicerna kemudian dihaluskan menjadi molekul-molekul atau butiran-butiran mikro (lemak) yang sesuai untuk diabsorpsi melalui dinding gastrointestinal ke dalam aliran darah (Zonneveld dkk. 1991).

Sistem pencernaan pada ikan menyangkut saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Ikan herbivora panjang total ususnya melebihi panjang total badannya. Panjangnya dapat mencapai lima kali panjang total badannya, sedangkan panjang usus ikan karnivora lebih pendek dari panjang total badannya dan panjang total ikan omnivora hanya sedikit lebih panjang dari total badannya. Secara ekologis pengelompokan makanan alami sebagai plankton, nekton, benthos, perifiton, epifiton dan neuston, di dalam perairan akan membentuk suatu rantai makanan dan jaringan makanan (Mudjiman 1989).

Menurut Goldman dan Horne (1983), produksi ikan dan biomassa ikan ditentukan oleh kualitas dan produktivitas plankton dan bentos yang dimanfaatkan sebagai pakan, bukan ditentukan oleh biomassa total kedua jenis pakan tersebut.

 

PEMELIHARAAN LARVA

Kendala utama yang dihadapi dalam memproduksi benih ikan pada umumnya adalah tingkat kematian yang tinggi pada stadia awal larva. Tingkat kematian yang tinggi ini terjadi pada saat larva berumur 4-5 hari dimana pada saat itu larva berada pada stadia kritis yakni ketika kuning dan butir minyak sebagai sumber energy telah terserap habis, sementara larva belum mampu memanfaatkan pakan dari luar. Ketidakmampuan larva memanfaatkan pakan dari luar antara lain karena bukaan mulutnya yang relative kecil dan organ pencernaannya belum terbentuk secara sempurna.

Pemeliharaan larva setelah menetas, larva siap diberi pakan dengan nauvilii artemia setelah berumur 3-4 hari, frekuensi pemberiannya setiap 4 jam. Pemberian artemia berlangsung selama 5 hari setelah itu ikan bias diberikan pakan buatan berbentuk tepung halus. Lama pemeliharaan dalam akuarium adalah 15 hari, setelah itu benih/kebul ikan didederkan kekolam pendederan yang sudah dilakukan persiapan pemupukan, dosis pupuk TSP dan Urea masing-masing 10 g/m3 dan pupuk kandang 200 g/m3, setelah satu bulan dilakukan pemupukan susulan sebanyak ½ dosis dari pemupukan, selama pemeliharaan benih ikan diberi pakan buatan sebanyak 4% dari bobot biomassa. Pendederan ini berlangsung selama 3 bulan, biasanya dicapai ukuran benih 5-7 cm atau sekitar 5 gram dan siap dipanen.

Untuk meningkatkan produksi benih, telah diujicoba perbedaan kedalaman kolam pendederan untuk memperoleh benih ukuran ngeramo”, lama waktu pemeliharaan 85 hari, serta dilakukan persiapan kolam dengan pemupukan. Ikan nilem merupakan jenis ikan pemakan plankton atau plankton feeder, walaupun pada pengamatan saluran pencernaan terdapat sisik ikan, sebagian besar isi saluran pencernaan ikan nilem adalah plankton.

Sistem pencernaan pada ikan di mulai dari oesophagus yang sangat pendek, karena hampir ronga mulut langsung menuju ke lambung atau intestine ventriculus melengkung seperti huruf U, dan dibedakan menjadi 2 yaitu pars cardiaca yang lebar dan pars pylorica yang sempit. Pada bangsa ikan sangat berliku dan hampir memenuhi rongga perut, dan bermuara ke anus. Hepar terdiri atas dua lobi, vesca fellea dari hepar menuju ductus hepaicus kemudian bersatu dengan ductus cyticus menjadi ductus choledocus yang bermuara ke duodenum. Adapun yang dihubungkan dengan peritoneum ke tundus ventriculli. Osteochilus hasselti mempunyai hati dan pankreas yang sulit dibedakan sehingga disebut hepatopankreas (Radiopoetro, 1988).Ginjal yang gilik yang terletak antara vesica pneumatica dengan tulang vertebrae. Cairan yang mengandung sisa-sisa persenyawaan nitrogen dan hidrogen diambil dari darah dalam ginjal akan ditampung ke dalam vesica urinaria melalui ureter (Jasin,1989). Hasil pemanenan ini benih diolah menjadi snek ikan/babyfish atau dibesarkan ke kolam pembesaran.

 

KESIMPULAN

Ikan nilem (Osteochilus hasselti) merupakan ikan herbivore, yaitu memakan makanan yang berupa makanan nabati, antara lain yaitu alga filamen dan plankton lainnya.

Pemeliharaan larva setelah menetas, larva siap diberi pakan dengan nauvilii artemia setelah berumur 3-4 hari dengan frekuensi pemberiannya setiap 4 jam.

 

DAFTAR PUSTAKA

Taofiqurohman, A. dkk. 2007. Studi Kebiasaan Makanan Ikan (food Habit) Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) Di Tarogong Kabupaten Garut. Laporan Penelitian Peneliti Muda (LITMUD) UNPAD. Universitas Padjajaran. Bandung

Subagja, J. dkk. 2006. Pelestarian Ikan Nilem (Osteochilus Hasselti C.V) Melalui Teknologi Pembenihannya. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar. Bogor

Anhar, M. dkk. 2008. Cara Makan dan Kebiasaan Makan Inak Nila (Oreochromis niloticus) dan Ikan Nilem (Osteochilus hasselti). Program Kreativitas Mahasiswa Institut Pertanian Bogor. Bogor

Wijaya, R. . . . . . Penggunaan Multi Asam Amino Esensial Sebagai Eko-Nutrien Pada Pemeliharaan Larva Ikan Nilem (Osteochillus hasselti C. V.). Universitas Jenderal Soedirman. Fakultas Sains dan Teknik. Purwokerto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s