Laporan Praktikum Endokrinologi

TUGAS

LAPORAN PRAKTIKUM ENDOKRINOLOGI

TOPOGRAFI, MORFOLOGI DAN HISTOLOGI KELENJAR ENDOKRIN

(Ikan Nilem dan Ayam Potong)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diajukan Guna Melengkapi Salah Satu Persyaratan Mata Kuliah

Endokrinologi

 

Disusun Oleh :

ANDI MUHAMMAD ISMAIL

P2BA11043

 

 

 

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMASN

PURWOKERTO

2012

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Sebagian besar wilayah dunia terdiri atas air. Ikan adalah salah satu hewan vertebrata yang hidup di air. Ikan bernapas dengan menggunakan insang, tetapi ada beberapa jenis ikan yang bernapas menggunakan paru-paru. Ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin)yang hidup di air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia. Ikan adalah organisme vertebrata yang hidup atau habitatnya berada di air, baik air tawar, air payau, maupun air laut (air asin). Ikan merupakan salah satu organisme vertebrata yang hidup atau habitatnya berada di air baik air tawar, air payau maupun air laut.Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan; biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes). Ikan merupakan salah satu sumber protein bagi manusia, antara lain ikan Nilem (Osteocillus hasselti), dan masyarakat Jawa mengenalnya dengan sebutan ikan wader. Protein yang berasal dari ikan merupakan 1/5 dari protein hewani yang dihasilkan dari seluruh dunia. Daging ikan mengandung 13-20% protein. Lemak ikan banyak mengandung asam lemak tak jenuh.

Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk luar suatu organisme. Bentuk luar dari organisme ini merupakan salah satu ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari organisme. Adapun yang dimaksud dengan bentuk luar organisme ini adalah bentuk tubuh, termasuk di dalamnya warna tubuh yang kelihatan dari luar. Pada dasarnya bentuk luar dari ikan dan berbagai jenis hewan air lainnya mulai dari lahir hingga ikan tersebut tua dapat berubah-ubah, terutama pada ikan dan hewan air lainnya yang mengalami metamorfosis dan mengalami proses adaptasi terhadap lingkungan (habitat). Namun demikian pada sebagian besar ikan bentuk tubuhnya relatif tetap, sehingga kalaupun terjadi perubahan, perubahan bentuk tubuhnya relatif sangat sedikit.

Lebih dari sejuta spesies hewan masih hidup saat ini, dan terdapat kemungkinan bahwa setidaknya sejuta organisme baru akan diidentifikasi oleh generasi ahli biologi masa depan. Hewan dikelompokkan ke dalam sekitar 35 filum, namun jumlah sebenarnya tergantung pada perbedaan pandangan para ahli sistematika. Hewan menempati hampir semua lingkungan di bumi, tetapi anggota terbanyak sebagian besar filum adalah spesies akuatik. Lautan yang kemungkinan merupakan tempat asal mula jenis-jenis hewan pertama, masih merupakan rumah bagi sejumlah besar filum hewan. Fauna air tawar sangatlah banyak tetapi tidak sekaya keanekaragaman fauna laut (Campbell et. al., 2004).

Hewan yang tidak memiliki tulang belakang digolongkan ke dalam hewan avertebrata. Di dalam dunia hewan diketahui bahwa hewan avertebrata dibedakan atas dua golongan yaitu hewan yang bersel tunggal dan hewan yang bersel banyak. Kecuali hewan yang termasuk Filum Protozoa, maka sisanya adalah hewan bersel banyak (Suhardi, 1983).

 

1.2  Tujuan

Adapun tujuan dari kegiatan praktikum ini adalah :

  1. Untuk mengamati dan mengetahui topografi, morfologi dan histology kelenjar endokrin pada ikan Nilem.
  2. Untuk mengamati dan mengetahui topografi, morfologi dan histology kelenjar endokrin pada ayam potong.

 

1.3  Manfaat

  1. Dapat mengetahui topografi, morfologi dan histology kelenjar endokrin pada ikan Nilem.
  2. Dapat mengetahui topografi, morfologi dan histology kelenjar endokrin pada ayam potong.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Kelenjar endokrin ialah suatu kelenjar yang tidak memiliki saluran pelepasan untuk mengalirkan hasil getahnya (segrete) keluar dari kelenjar. Oleh karena itu kelenjar endokrin biasa juga disebut kelenjar buntu. Getah yang dihasilkan oleh kelenjar ini disebut hormon, dan hormon ini langsung masuk ke dalam peredaran darah atau limf, atau cairan badan dan diedarkan ke seluruh tubuh dan akan mempengaruhi organ-organ sasaran pada organismee. Kelenjar endokrin ikan mencakup suatu sistim yang mirip dengan vertebrae yang lebih tinggi tingkatannya. Namun, ikan memiliki beberapa jaringan endokrin yang tidak didapatkan pada vertebrata yang lebih tinggi, misalnya Badan Stanius yang memiliki fungsi sebagai kelenjar endokrin yang membantu dalam proses osmoregulasi.

Kerja hormon menyerupai kerja saraf, yaitu mengontrol dan mengatur keseimbangan kerja organ-organ di dalam tubuh. Namun, kontrol kerja saraf lebih cepat dibanding dengan kontrol endokrin. Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar yang berasal dari ektodermal adalah protein, peptida, atau derivat dari asam-asam amino, dan hormon yang dihasilkan oleh kelenjar yang berasal dari mesodermal (gonad, korteks ardenal) berupa steroid. Hormon adalah suatu zat kimia (polypeptide) yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar hormon. Hormon ini berfungsi dalam mengatur/mempengaruhi organ-organ supaya bekerja. Misalnya dalam hal pematangan sel-sel kelamin, metabolisme, tingkah laku reproduksi, petumbuhan dan lain-lain.

Kelenjar hormon/endokrin pada ikan mencakup sistem yang mirip dngan vertebrata yang lebih tinggi tingkatannya, tetapi beberapa jaringan endokrin tidak membentuk jaringan tersendiri pada ikan, dan tempat (kedudukan) jaringan-jaringan ini mungkin berbeda dengan tempat kelenjar pada vertebrata tingkat tinggi. Ikan Nilem habitat aslinya di daerah beriklim sedang dengan suhu berkisar 18-28 ºC. Ikan Nilem hidup di tempat-tempat yang dangkal dengan arus yang tidak begitu deras, seperti danau, sungai, rawa, dan genangan-genangan air. Ikan ini mudah berkembang biak menurut aturan air mengalir. Ikan ini memakan planton dan peripyton (jasad yang menempel pada tanaman air). Ikan ini dapat bereproduksi pada usia kira-kira 9 bulan. Induk dari ikan Nilem yang dapat dipelihara di kolam berusia satu sampai dua tahun selang waktu memijahan tiga sampai empat bulan sekali.

Morfologi antara ikan Nilem jantan dan betina mempunyai perbedaan. Ikan Nilem betina bentuknya membulat, kurang gesit, bagian operculum halus, perut mengembang ke arah samping dan ke arah lubang pelepasan serta mempunyai gonad yang berwarna kuning. Ikan Nilem jantan perutnya lebih ramping, lebih gesit bagian pipih kasar, perut mengembang, dan gonadnya berwarna putih susu. Osteochillus hasselti digunakan untuk praktikum untuk mewakili class pisces. Osteochillus hasselti dipilih karena selain mudah didapat, juga murah harganya. Osteochillus hasselti mempunyai organ-organ penyusun yang lengkap dan jelas sehingga mudah diamati struktur tubuhnya.

Ikan nilem atau Silver Shark minnow  Familia Cyprinidae, Genus Osteochilus, Species Osteochilus hasselti (Val) mempunyai ciri morfologi  antara lain bentuk tubuh hampir serupa dengan ikan mas. Bedanya, kepala ikan nilem relatif lebih kecil. Pada sudut-sudut mulutnya, terdapat dua pasang sungut peraba. Warna tubuhnya hijau abu-abu. Sirip punggung memiliki 3 jari-jari keras dan 12-18 jari-jari lunak. Sirip ekor berbentuk cagak dan simetris. Sirip dubur disokong oleh 3 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak. Sirip perut disokong oleh 1 jari-jari keras dan 8 jari-jari lunak. Sirip dada terdiri dari 1 jari-jari keras dan 13-15 jari-jari lunak. Jumlah sisik pada gurat sisi ada 33-36 keping. Dekat sudut rahang atas ada 2 pasang sungut peraba

Ikan ini terdapat di Jawa, Sumatera dan Kalimantan, Malaysia, dan Thailand. Pada umumnya, ikan nilem dapat dipelihara pada daerah dengan ketinggian sekitar 150-800 m dpl.

Klasifikasi ikan nilem (Osteochilus hasselti) menurut Saanin (1987) adalah sebagai berikut :

Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata

Classis : Pisces

Subclassis : Teleostei

Ordo : Ostariophysi

Sub Ordo : Cyprinoidae

Familia : Cyprinidae

Sub familia : Cyprininae

Genus : Ostechilus

Spesies : Osteochilus hasselti

Sistem pencernaan pada ikan di mulai dari oesophagus yang sangat pendek, karena hampir ronga mulut langsung menuju ke lambung atau intestine ventriculus melengkung seperti huruf U, dan dibedakan menjadi 2 yaitu pars cardiaca yang lebar dan pars pylorica yang sempit. Pada bangsa ikan sangat berliku dan hampir memenuhi rongga perut, dan bermuara ke anus. Hepar terdiri atas dua lobi, vesca fellea dari hepar menuju ductus hepaicus kemudian bersatu dengan ductus cyticus menjadi ductus choledocus yang bermuara ke duodenum. Adapun yang dihubungkan dengan peritoneum ke tundus ventriculli. Osteochilus hasselti mempunyai hati dan pankreas yang sulit dibedakan sehingga disebut hepatopankreas (Radiopoetro, 1988).Ginjal yang gilik yang terletak antara vesica pneumatica dengan tulang vertebrae. Cairan yang mengandung sisa-sisa persenyawaan nitrogen dan hidrogen diambil dari darah dalam ginjal akan ditampung ke dalam vesica urinaria melalui ureter (Jasin,1989).

Sistem pernapasan dilakukan oleh insang yang terdapat dalam 4 pasang kantong insang yang terletak disebelah pharynk di bawah operculum. Waktu bernapas operculum menutup lelekat pada dinding tubuh, arcus branchialis mengembang ke arah lateral. Air masuk melalui mulut kemudian kelep mulut menutup, sedangkan arcus branchialis berkontraksi, dengan demikian operculum terangkat terbuka. Air mengalir keluar filamen sehingga darah mengambil oksigen dan mengeluarkan karbondioksida (Jasin,1989).

Menurut Djuhanda (1982), lengkung insang pada ikan nilem berupa tulang rawan yang sedikit membulat dan merupakan tempat melekatnya filamen-filamen insang. Arteri branchialis dan arteri epibranchialis terdapat pada lengkung insang di bagian basal pada kedua filamen insang pada bagian basalnya. Tapis insang berupa sepasang deretan batang-batang rawan yang pendek dan sedikit bergerigi, melejat pada bagian depan dari lengkung insang. Ikan nilem memiliki gelembung renang untuk menjaga keseimbangan di dalam air.

Sirip adalah suatu perluasan integument (pembungkus tubuh) yang tipis yang disokong oleh jari-jari sirip. Fungsi sirip adalah untuk mempertahankan kesetimbangan dalam air dan untuk berenang. Sirip-sirip pada ikan umumnya ada yang berpasangan dan ada yang tidak. Sirip punggung (dorsal fin), sirip ekor(caudal fin), dan sirip dubur (anal fin) disebut sirip tunggal atau sirip tidak berpasangan. Sirip dada (pectoral fin) dan sirip perut (abdominal fin) disebut sirip berpasangan (Jasin, 1989). Ikan jantan dan ikan betina dapat dibedakan dengan cara memijit bagian perut ke arah anus. Ikan jantan akan mengeluarkan cairan putih susu dari lubang genitalnya. Induk betina yang sudah matang telurnya dicirikan dengan perut yang relatif besar dan lunak bila diraba (Sumantadinata, 1981).

 

 

 

Ayam peliharaan (Gallus gallus domesticus) adalah unggas yang biasa dipelihara orang untuk dimanfaatkan untuk keperluan hidup pemeliharanya. Ayam peliharaan (selanjutnya disingkat “ayam” saja) merupakan keturunan langsung dari salah satu subspesies ayam hutan yang dikenal sebagai ayam hutan merah (Gallus gallus) atau ayam bangkiwa (bankiva fowl). Kawin silang antarras ayam telah menghasilkan ratusan galur unggul atau galur murni dengan bermacam-macam fungsi; yang paling umum adalah ayam potong (untuk dipotong) dan ayam petelur (untuk diambil telurnya). Ayam biasa dapat pula dikawin silang dengan kerabat dekatnya, ayam hutan hijau, yang menghasilkan hibrida mandul yang jantannya dikenal sebagai ayam bekisar.

Ayam menunjukkan perbedaan morfologi di antara kedua tipe kelamin (dimorfisme seksual). Ayam jantan (jago, rooster) lebih atraktif, berukuran lebih besar, memiliki jalu panjang, berjengger lebih besar, dan bulu ekornya panjang menjuntai. Ayam betina (babon, hen) relatif kecil, berukuran kecil, jalu pendek atau nyaris tidak kelihatan, berjengger kecil, dan bulu ekor pendek. Perkelaminan ini diatur oleh sistem hormon. Apabila terjadi gangguan pada fungsi fisiologi tubuhnya, ayam betina dapat berganti kelamin menjadi jantan karena ayam dewasa masih memiliki ovotestis yang dorman dan sewaktu-waktu dapat aktif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI

 

3.1  ACARA 1. TOPOGRAFI, MORFOLOGI DAN HISTOLOGI  IKAN NILEM

Alat dan bahan :

-          Alat bedah

-          Waskom dan peralatan aerasi

-          Tisu dan kain lap

-          Cawan petri (petri disk)

-          Talenan

-          Baki

-          Tabung (botol penyimpanan awetan hipofisis)

-          Kamera digital

-          Sendok kecil (sejenis spatula)

-          Kertas label

-          Mikroskop

-          Kaca preparat dan objek glass

-          NBF

-          Ethanol 70%

-          Ikan nilem jantan dan betina

 

Cara kerja :

  1. Ambil ikan nilem lalu letakkan diatas talenan, lalu potong bagian kepala secara melintang dan letakkan bagian badan ikan pada baki.
  2. Dengan menggunakan alat bedah, lakukan pengirisan pada bagian kerangka luar kepala ikan.
  3. Angkat bagian otak ikan secara hati-hati menggunakan sendok kecil, lalu ambil hipofisis ikan dan masukkan pada tabung yang sudah berisi larutan NBF dan tubung tersebut.
  4. Untuk mengamati morfologi dan histologi ikan nilem, lakukan pembedahan pada bagian badan ikan, lalu ambil bagian gonada dan ginjalnya, letakkan pada cawan petri dan beri label.
  5. Amati perbedaan antara struktur morfologi pada ikan nilem jantan dan betina dan ambil gambarnya menggunakan kamera digital sebagai dokumentasi.
  6. Untuk mengamati histologinya, iris tipis bagian hipofisa ikan nilem jantan dan betina, lalu letakkan pada kaca preparat, tetesi sedikit air dan tutup dengan objek glass lalu amati bagian-bagiannya (pars distalis, pars intermedia dan pars nervosa) secara teliti.
  7. Ambil gambar sebagai dokumentasi.

 

3.2  ACARA 2. TOPOGRAFI, MORFOLOGI DAN HISTOLOGI AYAM POTONG

Alat dan bahan :

-          Matras

-          Alat bedah

-          Baki

-          Tisu

-          Spuit (jarum suntik)

-          Tabung effendorf

-          Jarum oase

-          Kertas label

-          Alat sentrifugal

-          Frezz

-          Pipet tetes

-          Tabung sentrifuge

-          Kamera digital

 

 

 

Cara kerja :

  1. Letakkan ayam (sudah di ikat kakinya) pada matras, lalu pegang pada bagian badannya, buka bagian sayap kiri atau kanannya lalu cari pembuluh darahnya.
  2. Semprotkan ethanol 70% pada tisu lalu oleskan pada bagian yang akan di ambil sampel darahnya.
  3. Ambil jarum suntik, masukkan tepat menuju pembuluh darah pada bagian sayap ayam. Jarum diatur pada posisi lurus dan sedikit menurun kebawah untuk memudahkan agar darah cepat mengalir ke jarum.
  4. Ambil darah sebanyak-banyaknya, lepas mata jarum, lalu segera masukkan darah pada tabung sentrifugal dan tutup tabung.
  5. Agar sel darah tidak lisis, tabung segera dimasukkan pada frezz (temperature 6-8oC) dan di inkubasi selama 17 jam.
  6. Keluarkan tabung dari frezz, letakkan pada rak tabung.
  7. Sampel darah yang sudah memadat dilonggarkan dengan cara menusuk darah dengan jarum ose sterilkan jarum ose yang sudah disterilkan dengan ethanol 70% pada bagian sisi-sisinya dan diputar searah.
  8. Isi tabung lain dengan air biasa sesuai dengan ukuran dan volume darah sebagai penyeimbang pada saat dimasukkan kedalam alat sentrifuga dan disentrifuge.
  9. Tabung kemudian diletakkan pada alat sentrifuge dan disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. Ukur dan catat volume darah sebelum dimasukkan tabung sentrifugal.
  10. Sentrifugasi menghasilkan supernatan yang kemudian dipindahkan ke tabung effendorf menggunakan pipet tetes. Ukur dan catat volume supernatan tersebut dan beri label kelompok praktikan.
  11. Amati warna dari masing-masing supernatan, warna supernatan yang baik adalah kuning bening.
  12. Masukkan tabung effendorf dalam frezz atau chiller untuk penyimpanan.

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

 

4.1 Topografi, morfologi dan histology pada ikan nilem

Berdasarkan hasil pengamatan pada kegiatan pertama, yang dilakukan dengan membedah ikan nilem maka dapat diamati bahwa morfologi ikan nilem yaitu memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah vertikal dengan profil empat persegi panjang ke arah antero posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal).  Adapun morfologi ikan nilem secara umum, terdiri dari:

  1. Caput (kepala), terdiri dari:
    1. Rima oris (celah mulut)
    2. Fovea nasalis (cekung hidung)
    3. Organon visus (alat penglihat)
    4. Apparatus opercularis (tutup insang)
  2. Tructus (badan)
    1. Squama (sisik)
    2. Gurat sisi
    3. Sirip dada
    4. Sirip perut
    5. Anus
    6. Sirip belakang
    7. Sirip punggung
  3. Cauda (ekor)
    1. Sirip ekor

Ikan nilem adalah salah satu spesies ikan yang masuk dalam famili Cyprinidae, sehingga bentuk tubuh ikan nilem hamper serupa dengan ikan mas, hanya kepalanya relative lebih kecil. Pada sudut-sudut mulutnya terdapat dua pasang sungut-sungut peraba (Djuhanda, 1985). Ciri-cirinya yaitu, pada sudut-sudut mulutnya terdapat dua pasang sungut-sungut peraba Sirip punggung disokong oleh 3 jari-jari keras dan 12 – 18 jari-jari lunak. Sirip ekor bercagak dua, bentuknya simetris. Sirip dubur disokong oleh 3 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak. Sirip perut disokong oleh 1 jari-jari keras dan jari-jari lunak. Sirip dada disokong oleh 1 jari-jari dan 13 – 15 jari-jari lunak. Jumlah sisik-sisik gurat sisi ada 33 – 36 keping Ikan nilem dapat mencapai panjang tubuh 32 cm. Bedanya, kepala ikan nilem relatif lebih kecil. Bentuk tubuh ikan nilem agak memanjang dan pipih, ujung mulut runcing dengan moncong (rostral) terlipat, serta bintik hitam besar pada ekornya merupakan ciri utama ikan nilem. Ikan ini termasuk kelompok omnivora, makanannya berupa ganggang penempel yang disebut epifiton dan perifiton (Djuhanda, 1985). Sirip punggung disokong oleh 3 jari-jari keras dan 12 – 18 jari-jari lunak. Sirip ekor bercagak dua, bentuknya simetris. Sirip dubur disokong oleh 3 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak. Sirip perut disokong oleh 1 jari-jari keras dan jari-jari lunak. Sirip dada disokong oleh 1 jari-jari dan 13 – 15 jari-jari lunak. Jumlah sisik-sisik gurat sisi ada 33 – 36 keping  (Djuhanda, 1985).

pembedahan juga dilakukan terhadap kepala ikan untuk mengamati kelenjar hipofisa. Kelenjar hipofisa disebut pula sebagai kelenjar pituitary yang terletak di bawah diencephalon (bagian dari otak). Suatu tangkai yang menghubungkan antara kelenjar ini dengan dienchepalon disebut Infundibulum.  Berdasarkan hasil pengamatan, kelenjar hipofisa dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu pars distalis, pars intermedia dan pars nervosa.

Gambar. Hipofisa pada ikan nilem

Setelah melakukan pengamatan morfologi, ikan dibedah menggunakan alat bedah yang telah disediakan. Berdasarkan hasil pembedahan tersebut dapat diamati topografi organ dalam ikan nilem, seperti yang ditunjukkan pada skema berikut

 

Topografi organ visceral ikan nilem

Keterangan:

  1. Hati
  2. Perut
  3. Usus
  4. Jantung
  5. Gelembung renang
  6. Ginjal
  7. Buah pelir
  8. Saluran kencing
  9. Duktus eferen
  10. Kandung kemih
  11. Insang

 

Dalam kegiatan praktikum ini juga dilakukan pengamatan terhadap gonad dan ginjal dari ikan nilem. Gonad (kelenjar biak) ikan jantan disebut testis dan gonad ikan betina disebut Ovarium, yang masing-masing terdapat pada individu yang terpisah, kecuali pada beberapa jenis ikan terdapat pada satu individu dan disebut berkelamin hermaprodit. Baik indung telur maupun testis ikan semuanya terletak pada rongga perut di sebelah kandung kemih dan kanal alimentari. Keadaan gonad ikan sangat menentukan kedewasaan ikan. Kedewasaan ikan meningkat dengan makin meningkatnya fungsi gonad. Pada saat ikan bertelur dan sperma dikeluarkan oleh ikan jantan, pada saat itu pula terjadilah fertilasi di luar tubuh induknya (eksternal) yaitu di dalam air tempat dimana ikan itu berada. Telur ikan yang dibuahi dan menetas dinamakan larva. Larva tersebut mempunyai kuning telur yang masih menempel pada tubuhnya digunakan sebagai cadangan makanan untuk awal kehidupannya.

Ginjal pada ikan terletak diatas rongga perut, dibawah tulang punggung dan aorta dorsalis, sebanyak satu pasang, berwarna merah kecoklatan dan memanjang. Tubuli ginjal dibedakan atas bagian leher, proxima, tengah dan distal bermuara ke saluran pengumpul. Ginjal terbagi atas 2 tipe yaitu tipe pronefros dan mesonefros. Ginjal pronefros adalah yang pling primitf, meski terdapat pada perkembangan embrional sebagian ikan, tetapi saat dewasa tidak fungsional, fungsinya akan dgantikan oleh mosenephros. Ginjal ikan bertipe mesonefros berfungsi seperti opistinefros pada embrio emniota. Kedua tipe ginjal tersebut mirip, perbedaan prinsip adalah kaitanya dengan system peredaran darah, tingkat kompleksitas dan pada efisiensinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar . Letak ginjal pada ikan nilem

Gonad jantan (testis) tergantung pada meserchium, yang terletak di dalam rongga perut di depan gelembung renang. Struktur testis terdiri dari tubulus longitudinalis yang tidak teratur dan sangat banyak. Pada didnding tubulus terdapat cyste seminiferus . Pada dinding syste terdapat sel-sel penghasil sprematogonium yang disebut primodial germ cell. Di sekeliling sel-sel spermatozoa terdapat sel-sel sertoli, yang berfungsi memberi makan (nutrisi) sel bakal spermatzoa, memakan spermatozoa yang mati, memberi cairan tubulus dan diduga berfungsi sebagai kelenjar endokrin. Di luar tubulus terdapat sel leydig sebagai penghasil hormon androgen. Hormon androgen yang paling kuat pengaruhnya adalah hormon testosterone, yang berfungsi menentukan tanda-tanda kelamin jantan, tingkah laku kelamin jantan (seksual behaviour) dan merangsang spermatogenesis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar. Testis pada ikan nilem

Gonad betina (ovarium) terletak memanjang di dalam rongga perut yang tergantung di bagian atas rongga perut oleh jaringan pengikat disebut Mesovarium. Ovarium umumnya sepasang yang masing-masing berada di kiri dan kanan antara gelembung renang dan usus. Bentuk ovarium pada ikan nilem tidak mempunyai mesovarium, sehingga ovarium langsung melekat pada dinding dorsal rongga perut. Struktur ovarium ikan banyak mengandung bentukan semacam kantong yang disebut foliclle, yang berfungsi sebagai kelenjar endokrin berupa sel-sel granulosa dan sel-sel theca. Sel-sel granulosa berfungsi menghasilkan hormon progestron dan sel-sel theca berfungsi menghasilkan hormon estrogen. Kedua hormon tersebut sangat berperan dalam menentukan tingkah laku ikan betina.

 

 

Gambar. Ovarium pada ikan nilem

Perbandingan Sistem Ekskresi pada Ikan dan Ayam

Sistem Ekskresi Ikan

  • Alat ekskresi ikan berupa sepasang ginjal yang memanjang (opistonefros) dan berwarna kemerah-merahan. Pada beberapa jenis ikan, seperti ikan mas, saluran ginjal (kemih) menyatu dengan saluran kelenjar kelamin yang disebut saluran urogenital. Saluran urogenital terletak di belakang anus, sedangkan pada beberapa jenis ikan yang lain memiliki kloaka. Karena ikan hidup di air, ikan harus selalu menjaga keseimbangan tekanan osmotiknya.
  • Pada ikan yang bernapas dengan insang, urin dikeluarkan melalui kloaka atau porus urogenitalis; dan karbon dioksida dikeluarkan melalui insang. Pada ikan yang bernapas dengan paru-paru, karbon dioksida dikeluarkan melalui paru-paru; dan urin dikeluarkan melalui kloaka.
  • Mekanisme ekskresi pada ikan yang hidup di air tawar dan air laut berbeda. Ikan yang hidup di air tawar mengeksresikan amonia dan aktif menyerap oksigen melalui insang, serta mengeluarkan urin dalam jumlah yang besar. Sebaliknya, ikan yang hidup di laut akan mengekskresikan amonia melalui urin yang jumlahnya sedikit.

Sistem Ekskresi Ayam

  • Alat ekskresi pada ayam terdiri dari ginjal (metanefros), paru-paru, dan kulit. Ayam memiliki sepasang ginjal yang berwarna cokelat. Saluran ekskresi terdiri dari ginjal yang menyatu dengan saluran kelamin pada bagian akhir usus (kloaka). Ayam mengekskresikan zat berupa asam urat dan garam. Kelebihan larutan garam akan mengalir ke rongga hidung dan keluar melalui nares (lubang hidung). Ayam hampir tidak memiliki kelenjar kulit, tetapi memiliki kelenjar minyak yang terdapat pada tunggingnya. Kelenjar minyak berguna untuk meminyaki bulu-bulunya

 

4.2 Topografi, morfologi dan histology pada ayam potong

Ayam menunjukkan perbedaan morfologi di antara kedua tipe kelamin (dimorfisme seksual). Ayam jantan (jago, rooster) lebih atraktif, berukuran lebih besar, memiliki jalu panjang, berjengger lebih besar, dan bulu ekornya panjang menjuntai. Ayam betina (babon, hen) relatif kecil, berukuran kecil, jalu pendek atau nyaris tidak kelihatan, berjengger kecil, dan bulu ekor pendek. Perkelaminan ini diatur oleh sistem hormon. Apabila terjadi gangguan pada fungsi fisiologi tubuhnya, ayam betina dapat berganti kelamin menjadi jantan karena ayam dewasa masih memiliki ovotestis yang dorman dan sewaktu-waktu dapat aktif. Pada ayam terdapat sepasang ginjal multilober yang erat hubungannya dengan kilumna vertebralis dan ilia, terletak pada bagian kaudal dari paru-paru.

Gambar. Letak ginjal, ovary dan kelenjar adrenal pada ayam

 

Klasifikasi ilmiah ayam adalah sebagai berikut :

Kerajaan          : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Aves

Ordo                : Galliformes

Genus              : Gallus

Spesies            : G. Gallus

Upaspesies      : G. g. Dometicus

Gambar. Ovari, kelnjar adrenal dan ginjal pada ayam

 

Warnanya kecoklatan dan konsistensinya lunak sehingga mudah rusak pada proses pengeluaran dari tempatnya. Jika dibandingkan dengan ginjal pada ikan, topografi kedua ginjal ini jelas sangatlah berbeda. Hal ini disebabkan oleh bentuk tubuh ikan dan ayam yang sangat berbeda. Bentuk tubuh ikan yang cenderung berbentuk stream line mengakibatkan posisi ginjal melintang tepat di bawah tulang punggung. Perbedaan lainnya, ginjal ayam tidak memiliki vesica urinaria berbeda dengan ginjal ikan yang memiliki vesica urinaria sebab pada ayam urin langsung masuk ke dalam kloaka.

Kegiatan kedua yang dilakukan dalam praktikum ini adalah mengamati serum darah yang diambil dari bagian sayap ayam. Serum merupakan bagian dari cairan tubuh yang bercampur dengan darah. Serum sendiri dapat diartikan sebagai cairan tanda sel darah dan fator koagulasi atao fibrinogen.Serum merupakan juga sebuah plasma darah tanpa adanya fibrinogen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar. Pengambilan darah pada ayam

Setelah pengambilan darah dilakukan maka darah tersebut disimpan didalam tabung sentrifugal kemudian dibeku dalam frezz. Berdasarkan komponen yang terkandung didalamnya, serum terdiri dari 4 jenis yaitu:

  1. Serum albumin adalah protein dengan jumlah terbanyak di dalam tubuh. Albumin sangat penting demi memelihara tekanan osmosis untuk distribusi fluida tubuh antara intravascular compartment dan jaringan tubuh. Albumin juga berfungsi sebagai pengusung plasma dengan secara tidak langsung mengikat beberapa hormon steroid hydrophobic dan protein pengusung bagi hemin dan asam lemak dalam sirkulasinya.
  2. Serum globulin adalah istilah umum yang digunakan untuk protein yang tidak larut, baik di dalam air maupun di dalam larutan garam konsentrasi tinggi, tetapi larut dalam larutan garam konsentrasi sedang. Globulin mempunyai rasio 35% dari protein plasma, berguna untuk sirkulasi ion, hormon dan asam lemak dalam sistem kekebalan. Beberapa jenis globulin mengikat hemoglobin, beberapa yang lain mengusung zat besi, berfungsi untuk melawan infeksi, dan bertindak sebagai faktor koagulasi.
  3. Serum lipoprotein adalah senyawa biokimiawi yang mengandung protein dan lemak. Lipoprotein dapat berbentuk enzim, transporter, protein struktural, antigen, adesin, toksin, high density lipoprotein dan low density lipoprotein yang memungkinkan lemak terusung di dalam darah, dan protein transmembran yang terdapat pada mitokondria (terdapat juga pada kloroplas tanaman), serta lipoprotein bakterial.
  4. Serum wewenang (Regulatory protein) yang hanya berjumlah 1% dari protein plasma, terdiri dari enzim, proenzim dan hormon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar. Penyimpanan sserum darah dalam tabung sentrifugal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar. Sentrifuger

Berdasarkan hasil pengamatan, hasil dari sentrifuge supernatant darah yang diperoleh menunjukkan bahwa serum darah yang diperoleh ada yang berwarna kuning dan ada yang berwarna merah. Sesuai dengan panduan, supernatant yang baik adalah supernatant yang berwarna kuning. Diperolehnya supernatant yang berwarna merah kemungkinan terdapat kesalahan pada langkah kerja sehingga masih terdapat sel darah pada serum yang diamati yang mengakibatkan timbulnya warna merah pada supernatant.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN

 

  1. Gonad jantan (testis) tergantung pada meserchium, yang terletak di dalam rongga perut di depan gelembung renang, berfungsi memproduksi sperma (spermatogenesis) dan hormon reproduksi. Sedangkan gonad betina (ovarium) terletak memanjang di dalam rongga perut yang tergantung di bagian atas rongga perut oleh jaringan pengikat disebut mesovarium, berfungsi menghasilkan ovum dan hormon reproduksi.
  2. Ginjal ikan nilem terletak di atas rongga perut, di luar peritonium, di bawah tulang punggung dan aorta dorsalis sedangkan ginjal ayam terdapat sepasang ginjal multilober yang erat hubungannya dengan kilumna vertebralis dan ilia, terletak pada bagian kaudal dari paru-paru. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan bentuk tubuh.
  3. Kelenjar hipofisa disebut pula sebagai kelenjar pituitary yang terletak di bawah diencephalon. Kelenjar hipofisa dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu pars distalis, pars intermedia dan pars nervosa.
  4. Serum merupakan plasma darah yang tidak mengandung fibrinogen. Serum darah ayam yang berwarna kuning bening terjadi akibat adanya reaksi pemisahan antara hemoglobin dalam darah yang telah dibekukan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hernawati. 2008. Bahan Kulian Struktur Hewan. Jurusan Pendidikan Biologi. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung

http://mink-biologi.blogspot.com/2010/03/morfologi-ikan-nilem.html

http://aepcute.blogspot.com/2011/02/anatomi-ikan-nilem-osteochillus.html

http://aepcute.blogspot.com/2011/04/pengenalan-hewan-avertebrata-dan.html

http://dc345.4shared.com/doc/QbDTAUjA/preview.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan

http://id.wikipedia.org/wiki/Ayam

http://ksaundip.multiply.com/journal?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal

http://www.scribd.com/novrita/d/48952782-GINJAL-IKAN-polos

http://id.wikipedia.org/wiki/Ayam

http://biologigonz.blogspot.com/2011/05/variasi-ginjal-hewan.html

Dewi, Kartika dan Soeminto. 2005. Pertumbuhan Ikan Nilem (Osteochilus Hasselti C. V) Ginogenesis Sampai Umur 30 Hari Serta Tingkat Perkembangan Gonad Yang Telah DIcapai. Jurnal Iktiologi Indonesia, Volume 5-2. Universitas Soedirman. Purwokerto

Slamet, Adeng. 2007. Zoologi Vertebrata. UNIVERSITAS SRIWIJAYA: Indralaya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s